TVRINews, Jakarta
Kualitas udara di DKI Jakarta tercatat berada pada kategori tidak sehat pada Rabu pagi. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi risiko paparan polusi udara.
Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 07.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 162. Sementara itu, konsentrasi partikel halus PM2,5 tercatat mencapai 71 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut setara dengan 14,2 kali lipat nilai panduan tahunan kualitas udara yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas udara di Ibu Kota masih menjadi perhatian, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak polusi.
PM2,5 merupakan partikel polutan berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat berasal dari debu, asap, dan jelaga. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
Paparan PM2,5 dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung dan paru-paru. Risiko tersebut menjadi perhatian khusus bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan maupun gangguan kardiovaskular.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, menutup jendela untuk mengurangi masuknya udara tercemar, serta mengoperasikan penyaring udara di dalam ruangan juga dapat menjadi langkah perlindungan tambahan.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan IQAir pada waktu yang sama, Jakarta menempati urutan keempat dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia.
Posisi tersebut berada di bawah Palembang yang mencatat indeks 1.130, Tangerang Selatan, Banten, dengan indeks 172, serta Pontianak dengan indeks 170.
Data tersebut merupakan gambaran kondisi pada waktu pemantauan dan dapat berubah mengikuti aktivitas manusia serta kondisi cuaca dan atmosfer.
Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Upaya mengurangi paparan polusi menjadi penting untuk menjaga kesehatan, terutama ketika konsentrasi partikel halus di udara masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, risiko dampak polusi udara diharapkan dapat diminimalkan, sembari mendorong upaya berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas udara di wilayah perkotaan.










