TVRINews, Jakarta
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta meningkatkan status kewaspadaan menjadi Siaga 1 di Pos Pantau Angke Hulu setelah terjadi lonjakan tinggi muka air hingga 350 sentimeter pada Selasa, 5 Mei 2026 dini hari.
Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya curah hujan di kawasan hulu sejak awal malam sebelumnya, yang menyebabkan debit air terus mengalami kenaikan bertahap hingga memasuki level kritis.
“Kami terus memantau perkembangan di lapangan. Kenaikan debit air terjadi cukup cepat dan saat ini sudah berada pada status Siaga 1,” kata BPBD DKI Jakarta dalam keterangan resminya, Selasa, 5 Mei 2026.
Pantauan petugas menunjukkan peningkatan signifikan sejak Senin sore. Dari kondisi awal 220 cm, air perlahan naik menjadi 280 cm, kemudian 295 cm, hingga akhirnya melampaui batas siaga dan mencapai 350 cm pada awal hari Selasa.
Perubahan status ini terjadi dalam rentang waktu kurang dari enam jam, seiring kondisi cuaca yang masih mendung di wilayah tangkapan air.
BPBD memperkirakan aliran air dari Angke Hulu akan bergerak menuju Cengkareng Drain dalam beberapa jam ke depan, yang berpotensi memicu genangan di sejumlah titik permukiman padat penduduk.
“Warga di bantaran sungai diminta tidak menunggu situasi memburuk. Segera lakukan langkah antisipasi seperti pengamanan barang dan kesiapsiagaan evakuasi mandiri,” ujar petugas BPBD.
Sejumlah kawasan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara masuk dalam daftar siaga, di antaranya Rawa Buaya, Kembangan, Duri Kosambi, Kapuk, Kapuk Muara, Cengkareng Timur, hingga Kamal Muara.
Wilayah tersebut dinilai memiliki risiko genangan akibat meluapnya aliran sungai utama.
Tidak hanya Angke Hulu, beberapa pintu air lain juga menunjukkan peningkatan status, termasuk Pasar Ikan yang berada pada Siaga 2, serta Manggarai, Karet, Sunter Hulu, dan Pesanggrahan yang masih dalam kondisi Siaga 3.
Sebelumnya, hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Senin (4/5/2026) telah menyebabkan banjir di puluhan titik permukiman. Ketinggian air bervariasi dan sempat mengganggu aktivitas warga serta akses jalan di beberapa lokasi utama.
Jakarta Selatan tercatat sebagai wilayah dengan dampak paling luas, disusul Jakarta Barat yang mengalami genangan di sejumlah ruas jalan protokol.










