TVRINews, Jakarta
PT MRT Jakarta (Perseroda) menyiapkan lima transformasi utama dalam pengembangan Blok M Fase Ultimate. Pengembangan tersebut diarahkan untuk menjadikan kawasan Blok M-Sisingamangaraja sebagai pusat perkotaan yang aktif, inklusif, dinamis, dan layak huni di Jakarta.
Konsep desain transformasi Blok M Fase Ultimate tersebut diluncurkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Blok M Hub, Rabu, 7 Oktober 2026.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat mengatakan, transformasi kawasan mencakup lima aspek utama. Pertama, revitalisasi terminal agar lebih modern dan terintegrasi. Kedua, pengembangan kawasan mixed-use Blok M-Sisingamangaraja yang lebih mudah diakses, inklusif, dan dinamis. Ketiga, penguatan integrasi dan interkoneksi antarmoda, terutama untuk mendukung mobilitas pejalan kaki.
Aspek keempat berupa pengembangan destinasi komersial baru yang dilengkapi berbagai gerai ritel, gaya hidup, serta kuliner dan minuman. Sementara aspek kelima adalah penyediaan ruang terbuka publik yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat untuk berinteraksi.
Tuhiyat menyebut kebutuhan terhadap ruang interaksi yang aman dan nyaman semakin penting seiring tingginya aktivitas masyarakat di kawasan Blok M.
Menurutnya, sekitar 25 ribu pengunjung mendatangi Blok M Hub setiap hari. Tingginya mobilitas tersebut menjadi salah satu pertimbangan MRT Jakarta dalam merancang kawasan baru yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan daya tarik Blok M.
“Tujuan transformasi ini ialah untuk mewujudkan kawasan Blok M dan Sisingamangaraja sebagai pusat perkotaan yang aktif, inklusif, dinamis, dan layak huni di Jakarta,” ujar Tuhiyat dalam keterangan tertulis, dikutip, Rabu, 7 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, transformasi Blok M Hub menjadi Blok M Fase Ultimate akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal mencakup revitalisasi terminal dan Blok M Hub atau area ritel dengan target penyelesaian pada 2029.
Setelah tahap tersebut, pembangunan akan dilanjutkan dengan gedung mixed-use pada tahun berikutnya.
Tuhiyat menegaskan, investasi revitalisasi kawasan tidak menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). MRT Jakarta sebagai pengelola kawasan akan mengembangkan skema pembiayaan kreatif atau creative financing dengan menggandeng sejumlah mitra strategis.
“Investasi revitalisasi tersebut tidak bersumber dari APBD. MRT Jakarta selaku pengelola kawasan mengedepankan skema creative financing dan bekerja sama dengan berbagai mitra strategis,” tandasnya.
Pramono Minta Ruh Blok M Tetap Dipertahankan
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendukung transformasi Blok M Fase Ultimate. Ia berpesan agar pengembangan kawasan tetap mempertahankan karakter dan ruh Blok M sebagai salah satu destinasi wisata perkotaan di Jakarta.
Pramono menilai Blok M harus tetap menjadi kawasan yang hidup dan mampu menjadi ruang bagi berbagai aktivitas masyarakat, termasuk aktivitas kerja, perkembangan anak muda, serta tumbuhnya kolaborasi dan tradisi budaya baru.
Menurutnya, pengembangan kawasan juga perlu tetap memperhatikan aspek budaya, ekonomi, dan komersial.
Selain itu, Pramono menilai transformasi Blok M dapat menjadi contoh penerapan konsep transit-oriented development(TOD) untuk kawasan lainnya seiring dengan semakin berkembangnya sistem transportasi publik di Jakarta.










