TVRINews, Jakarta
CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Jamartin Sihite mengapresiasi kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Tengah. Kunjungan tersebut dinilai memberi kesempatan kepada Wapres melihat langsung kondisi orangutan yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan serta penanganan yang dilakukan BOSF.
Menurut Jamartin, kunjungan Gibran pada Kamis, 10 September 2026, tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung kerja tim BOSF dalam merawat orangutan di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap.
“Kami berpikir, seeing is believing. Beliau melihat langsung teman-teman kami bekerja memperhatikan orangutan dan bagaimana kami merawat mereka walaupun ada asap,” kata Jamartin, Senin, 14 September 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Gibran juga diajak melihat orangutan yang sakit dan membutuhkan nebulizer. BOSF turut menyampaikan bantuan dari Kementerian Kehutanan berupa nebulizer, oksigen, dan peralatan pemadam kebakaran.
Jamartin menilai perhatian Gibran tidak hanya tertuju pada orangutan, tetapi juga satwa liar secara lebih luas.
“Dari apa yang beliau lihat dan dari pengalaman kami, beliau memberikan perhatian yang cukup besar terhadap satwa liar, tidak hanya orangutan,” ujarnya.
Menurut Jamartin, kondisi orangutan dapat menjadi gambaran dampak kebakaran hutan dan asap terhadap satwa liar lain yang hidup di kawasan hutan.
“Kalau orangutan terdampak, bayangkan satwa liar lain di hutan yang juga terdampak. Ini harus menjadi perhatian Presiden dan Wakil Presiden,” katanya.
Meski mengapresiasi perhatian pemerintah, Jamartin menilai upaya tersebut perlu diikuti langkah konkret, terutama dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Ia berharap sistem pencegahan kebakaran dan peringatan dini diperkuat sehingga pemerintah dapat meningkatkan kesiapsiagaan sebelum kebakaran terjadi, bukan hanya melakukan penanganan setelah karhutla meluas.
Menurutnya, indikator seperti periode tanpa hujan, suhu, dan tingkat kerawanan wilayah dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan lebih awal.
“Karena kita semua tahu bahwa pencegahan kebakaran itu lebih murah dan lebih efektif daripada penanganan. Tetapi kita biasanya sama-sama reaktif ketika sudah terjadi,” kata Jamartin.
Selain memperkuat pencegahan karhutla, Jamartin meminta pemerintah menjaga kawasan hutan yang masih menjadi habitat orangutan dan satwa liar lain. Kawasan tersebut dinilai perlu dilindungi agar tidak dikonversi untuk penggunaan lain.
Ia juga berharap kawasan berhutan yang secara tata ruang masih memungkinkan dialihfungsikan dapat dipertimbangkan untuk memperoleh perlindungan lebih kuat jika terbukti menjadi habitat satwa.
Jamartin menilai perhatian pemerintah terhadap konservasi saat ini menunjukkan perbaikan, meski masih perlu ditingkatkan.
“Yang ada sekarang, menurut kami, sudah lebih baik dari sebelumnya, tetapi harus ditingkatkan,” katanya.










