Penulis: Thalia. S
TVRINews, Jakarta
Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta bekerja sama dengan Teater Keliling menghadirkan pertunjukan rekonstruksi sejarah bertajuk "Swarnakala Jakarta – Masa Keemasan dalam Lintasan Waktu" di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat.
Pagelaran tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan menuju lima abad Jakarta. Melalui pertunjukan ini, masyarakat diajak menelusuri perjalanan panjang sejarah ibu kota sekaligus merefleksikan nilai-nilai kepemimpinan yang diharapkan mampu membawa Jakarta menuju masa depan.
Nama Swarnakala berasal dari bahasa Sanskerta, yakni Swarna yang berarti emas dan Kala yang berarti masa atau waktu. Konsep tersebut menggambarkan cita-cita bersama untuk mewujudkan kembali masa keemasan Jakarta melalui kepemimpinan yang visioner, berintegritas, serta didukung partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Pertunjukan berdurasi sekitar 90 menit itu dikemas dengan konsep modern yang memadukan teater, musik, dan rekonstruksi sejarah agar lebih dekat dengan generasi muda.
Cerita berpusat pada tokoh Visya, remaja berusia 15 tahun yang terinspirasi menjadi pemimpin masa depan setelah mendengar pidato dalam perayaan menuju lima abad Jakarta. Bersama kakek dan neneknya, Visya memasuki dunia virtual bertajuk Game of Life melalui perantara kuliner khas Betawi, kerak telor bermantra, yang membawanya menjelajahi berbagai peristiwa penting dalam sejarah Jakarta.
Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, mengatakan pertunjukan ini tidak hanya mengangkat kisah sejarah, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya nilai-nilai kepemimpinan bagi generasi penerus.
"Pesan yang disampaikan melalui Swarnakala Jakarta bahwa kepemimpinan adalah estafet nilai. Masa keemasan Jakarta bukanlah sesuatu yang hanya dikenang, melainkan sesuatu yang sedang dan harus terus diperjuangkan bersama melalui integritas, empati, inovasi, dan kontribusi nyata dari setiap warga," ujar Ali dalam keterangan tertulis, dikutip, Minggu 2 Agustus 2026.
Melalui perpaduan seni pertunjukan, musik, dan dramatisasi sejarah di ruang publik, pagelaran ini menghadirkan pengalaman yang membawa penonton menyaksikan perjalanan Jakarta dari masa ke masa. Latar arsitektur bersejarah Taman Fatahillah dipadukan dengan tata cahaya dan unsur teatrikal untuk memperkuat suasana setiap adegan.
Selain menjadi hiburan, pertunjukan ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah Jakarta sekaligus menjadi sarana edukasi dan apresiasi budaya yang dapat dinikmati berbagai kalangan.
“Pemprov DKI Jakarta terus menghadirkan ruang-ruang budaya yang menghidupkan kembali sejarah sebagai bagian dari identitas kota, sekaligus mendekatkan warisan budaya kepada masyarakat melalui pendekatan seni pertunjukan,” tandasnya.









