TVRINews, Jakarta
Kemitraan strategis antara Indonesia dan Republik Korea terus difokuskan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mengakselerasi transisi menuju energi hijau. Kerja sama kedua negara diwujudkan melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang terintegrasi, mulai dari industri manufaktur hingga pengolahan baterai nikel.
Kepala Seksi Politik Kedutaan Besar Republik Korea Uhm Taeho dalam workshop Indonesian Journalist Network on Korea (IJN) di Jakarta menyampaikan bahwa kolaborasi sektor otomotif dan energi ini sejalan dengan komitmen besar pemerintah kedua negara dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
"Ini merupakan bagian dari skema yang lebih besar dalam kerja sama menuju tujuan bersama pertumbuhan hijau, yang merupakan tujuan yang sangat diusung oleh para pemimpin dan pemerintah kita", ujar Uhm Taeho dalam keteraangannya, Minggu 30 Agustus 2026.
Dari sisi investasi industri, Uhm menyoroti langkah Hyundai Motors yang telah membangun pabrik manufaktur di Cikarang, Jawa Barat. Pengoperasian pabrik tersebut terbukti memberikan dampak positif bagi penyerapan tenaga kerja dalam negeri.
"Karena Hyundai Motors telah melakukan investasi besar di sini dengan mendirikan pabrik manufaktur di Cikarang. Saya pernah ke sana, tempatnya luar biasa. Dan saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menekankan bahwa secara harfiah setiap pekerja yang saya lihat di pabrik itu adalah orang Indonesia", kata Uhm.
Komitmen investasi tersebut terus diperluas melalui integrasi industri hulu ke hilir. Hyundai Motors turut bergandengan tangan dengan LG CNS untuk membangun fasilitas produksi baterai berbasis nikel di Indonesia.
"Karena Hyundai Motors tidak berhenti pada investasi di pabrik manufaktur. Mereka bermitra dengan LG CNS dan mendirikan pabrik baterai nikel di Indonesia juga. Saya rasa itu adalah komitmen bahwa mereka akan tetap berada di sini", tuturnya.
Uhm menjelaskan bahwa dukungan penuh pemerintah Korea terhadap ekspansi ekosistem mobil listrik Hyundai didasari oleh penggunaan komponen baterai yang memanfaatkan komoditas nikel lokal Indonesia.
"Alasan mengapa kami mendukung sistem mobil listrik Hyundai Motor dan mempromosikannya di Indonesia adalah karena Hyundai menggunakan baterai yang mengandung nikel", jelasnya.
Seiring dengan intensifnya komunikasi antara kedua pemerintah, pihak Kedutaan Besar Korea berharap adanya kemudahan regulasi serta dukungan insentif bagi industri baterai berbasis nikel agar memberikan keuntungan optimal bagi perekonomian nasional.
"Kita mengharapkan pemerintah Indonesia untuk memberikan insentif dan kemudahan regulasi terkait baterai yang menggunakan nikel, yang akan menguntungkan bagi Indonesia", pungkasnya.










